Mutiara Hadist

" Sesungguhnya Allah SWT. berfirman pada hari kiamat : Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku ? hari ini akan Aku naungi ( tolong ) mereka, dimana tidak ada naungan ( pertolongan ) yang lain selain dari-Ku. " ( HR. Muslim )

My Project

Tailor-made Logo Design at 99designs

Sponsors

Promo




Senin, 30 Juli 2007

Tragedi Tanjung Priok, September 1984

Foto : Tengkorak dan tulang korban peristiwa Tanjung Priok bernama Tukimin di Mengkok Sukapura, RSCM Jakarta 7 September 2000 - dok : tempo interaktif

Tragedi ini terjadi pada September 1984. Saat itu hampir tengah malam, tiga orang juru dakwah, Amir Biki, Syarifin Maloko dan M. Nasir berpidato berapi-api di jalan Sindang Raya, Priok. Mereka menuntut pembebasan empat pemuda jamaah Mushala As-Sa'adah yang ditangkap petugas Kodim
Jakarta Utara.

Empat pemuda itu digaruk tentara karena membakar sepeda motor Sertu Hermanu. Anggota Babinsa Koja Selatan itu hampir saja dihajar massa jika tak dicegah oleh seorang tokoh masyarakat di sana.
Ketika itu, 7 September 1984, Hermanu melihat poster ''Agar para wanita memakai pakaian jilbab.' Dia meminta agar poster itu dicopot.

Tapi para remaja masjid itu menolak. Esoknya Hermanu datang lagi, menghapus poster itu dengan koran yang dicelup air got. Melihat itu, massa berkerumun, tapi Hermanu sudah pergi. Maka beredarlah desas-desus 'ada sersan masuk mushola tanpa buka sepatu dan mengotorinya.' Massa rupanya termakan isu itu. Terjadilah pembakaran sepeda motor itu.

Maka, pengurus Musholla pun meminta bantuan Amir Biki, seorang tokoh di sana agar membebaskan empat pemuda yang ditahan Kodim itu. Tapi ia gagal, dan berang. Ia lantas mengumpulkan massa di
jalan Sindang Raya dan bersama-sama pembicara lain, menyerang pemerintah. Biki dengan mengacungkan badik, antara lain mengancam RUU Keormasan.

Pembicara lain, seperti Syarifin Maloko, M. Natsir dan Yayan, mengecam Pancasila dan dominasi Cina atas perekonomian Indonesia. Di akhir pidatonya yang meledak-ledak, Biki pun mengancam, ''akan menggerakkan massa bila empat pemuda yang ditahan tidak dibebaskan.'' Ia memberi batas
waktu pukul 23.00. Tapi sampai batas waktu itu, empat pemuda tidak juga dibebaskan.

Maka, Biki pun menggerakkan massa. Mereka dibagi dua; kelompok pertama menyerang Kodim. Kelompok kedua menyerang toko-toko Cina. Bergeraklah dua sampai tiga ribu massa ke Kodim di jalan Yos
Sudarso, berjarak 1,5 Km dari tempat pengerahan massa.

Biki berjalan di depan. Tapi di tengah jalan, depan Polres Jakarta Utara, mereka dihadang petugas. Mereka tak mau bubar. Bahkan tak mempedulikan tembakan peringatan. Mereka maju terus, menurut versi tentara, sambil mengacung-acungkan golok dan celurit.

Masih menurut sumber resmi TNI, Biki kemudian berteriak, Maju...serbu...' dan massa pun menghambur. Tembakan muntah menghabiskan banyak sekali nyawa. Biki sendiri tewas saat itu juga.

Keterangan resmi pemerintah korban yang mati hanya 28 orang. Tapi dari pihak korban menyebutkan sekitar tujuh ratus jamaah tewas dalam tragedi itu. Setelah itu, beberapa tokoh yang dinilai terlibat dalam peristiwa itu ditangkapi; Qodir Djaelani, Tony Ardy, Mawardi Noor, Oesmany Al Hamidy. Ceramah-ceramah mereka setahun sebelumnya terkenal keras; menyerang kristenisasi, penggusuran, Asaa Tunggal Pancasila, Pembatasan Izin Dakwah, KB, dan dominasi ekonomi oleh Cina.

Empat belas jam setelah peristiwa itu, Pangkopkamtib LB Moerdani didampingi Harmoko sebagai Menpen dan Try Sutrisno sebagai Pangdam Jaya memberikan penjelasan pers. Saat itu Benny menyatakan telah terjadi penyerbuan oleh massa Islam di pimpin oleh Biki, Maloko dan M. Natsir. Sembilan korban tewas dan 53 luka-luka, kata Benny.

dari berbagai sumber

Senin, 23 Juli 2007

Komplek Olahraga Senayan, Dalam Sejarah

Foto : Stadion Utama Senayan ketika masih dalam tahap pembangunan pada tahun 1960.

Gegap Gempitanya Piala Asia 2007 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk Babak Penyisihan Grup D dan Final memang sangat membanggakan rakyat Indonesia. Tapi Tahukah anda bahwa pembangunan Stadion Utama yang pada awalnya bernama Gelora Senayan ini sebetulnya dibangun berdasarkan proyek mercusuarnya Bung Karno.

8 Februari 1960 : di Jakarta, Presiden Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama Senayan menandai dimulainya pembangunan stadion sepakbola yang kelak akan menjadi yang terbesar di Asia. Pembangunan stadion Senayan ini menjadi puncak dari perayaan politik mercusuar Soekarno. Kompleks olahraga Senayan memang ide Soekarno. Proyek besar itu dimulai pada tengahan 1958 dan fase pertama pembangunannya tuntas pada 1962, sehingga bisa dipakai untuk penyelenggaran Asian Games IV. Uni Soviet memberikan pinjaman lunak senilai 12,5 juta dolar AS untuk pembangunan ini.

Yang diselesaikan pertama kali adalah stadion renang (selesai Juni 1961), berkapasitas 8.000 penonton. Kemudian pada Desember 1961, selesai pula stadion tenis yang berkapasitas 5.200 penonton. Pada Desember 1961 pula, stadion madya dengan kapasitas 20 ribu penonton juga selesai dibangun. Istora yang berkapasitas 10 ribu penonton selesai pada Mei 1962, yang kemudian digunakan untuk pertandingan Piala Thomas. Stadion utama sepakbola yang berkapasitas 100 ribu penonton selesai dibangun pada Juni 1962. Stadion utama beratap temu gelang berentuk oval. Stadion dikelilingi jalan lingkar sepanjang 920 meter. Lapangan sepak bola di dalamnya dikelilingi lintasan berbentuk elips dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,2 meter.

Selama pembangunan, Soekarno tampak begitu antusias. Dia amat rajin mengunjungi proyek mercsuarnya ini, sampai-sampai ia kadang terlibat mengurusi hal sepele, semisal batu bata dan pasir. Bahkan ketika di Karawang terjadi banjir, Soekarno tetap saja asyik “bermain” dengan proyek tersebut, sampai-sampai ketika itu Soekarno dijuluki sebagai “lurah Jakarta”.

Pada periode yang sama, persisnya pada 1960, Soekarno juga membangun mesjid Istiqlal. Pada masanya, dan bahkan hingga kini, Istiqlal tak hanya menjadi mesjid terbesar di Indonesia, tetapi juga terbesar dan termegah di kawasan Asia Tenggara.

Saat ada yang mengeluhkan kondisi rakyat yang masih susah, Sukarno menjawab, ''Biarlah dulu, nanti kalau gedung-gedung ini selesai, rakyat akan lupa semua kesusahan itu dan hanya ingat pada gedung-gedung ini.'' Soekarno juga memancangkan ambisinya dalam membangun Jakarta seraya membandingkannya dengan negara lain. Jika Mesir dapat membangun Kairo, Italia memiliki Roma, Prancis dengan Paris dan Brazil dengan Brazilia, kata Soekarno, “maka Indonesia juga harus bangga memperlihatkan Jakarta sebagai pintu masuk negara.''

Pada November 1963, Jakarta menjadi tuan rumah pesta olahraga Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang dibayangkan Soekarno sebagai pesta olahraga negara-negara anti-kolonialisme, semacam “olimpiade negara kiri”. Ganefo, dengan semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus Jangan Mundur), meski diboikot sejumlah negara tapi tetap berlangsung sukses dan diikuti 2.200 atlet dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Lebih dari 450 wartawan dari berbagai negara datang ke Senayan.

Stadion senayan bisa dibaca sebagai situs yang mengetengahkan hubungan saling pengaruh antara monumen, memori kota dan perjuangan simbolik dalam pencarian identitas dan kekuasaan. Stadion Senayan menjadi altar yang menggelar ritus-ritus politik seorang Soekarno yang anti-kolonialisme dan imperialisme. Dan Ganefo, olimpiade alternatif itu, menjadi ritus perlintasan (rites de passage) dari semua sub-sub ritus anti-kolonial yang pernah digelar sebelumnya, entah itu lewat orasi-orasinya atau pun jargon-jargonnya yang sarkastis terhadap negara-negara Barat.

Jika di podium dan mimbar-mimbar Soekarno menggelar perlawanan anti-kolonial dengan kata-kata verbal, stadion Senayan dan ritus anti-kolonial yang digelar lewat Ganefo adalah pernyataan-pernyataan politik yang simbolik, tapi karenanya justru lebih mengabadi.

dari berbagai sumber

Kamis, 19 Juli 2007

Indonesia - Korea Selatan, 18 Juli 2007

Foto : Bambang Pamungkas memeluk Richardo Salampessy yang kecewa karena Indonesia gagal maju keperempat final setelah dikalahkan Korea Selatan 0-1, pada pertandingan terakhir Grup D Piala Asia 2007, di Gelora Bung Karno, sementara Elie Aiboy tertuntuk lesu. ( Foto dok : media indonesia )

Perjuangan pasukan Merah Putih dipentas Piala Asia 2007 yang digelar sejak 7 juli lalu telah berakhir setelah dikalahkan Ksatria Taeguk Korea Selatan 0-1, tapi perjalanan pasukan Ivan Venkov Kolev ini sangat pantas mendapatkan pujian, karena selain memperlihatkan teknik bermain bola yang sudah cukup baik juga menunjukkan semangat juang yang sangat tinggi pantang menyerah ketika melawan musuh-musuhnya yang diatas kertas dan secara realitas memang lebih baik.

Siapa yang tak kenal Son Of The Desert Arab Saudi yang telah malang melintang di persepakbolaan dunia, siapa yang tak mengetahui Taeguk Warriors Korea Selatan yang selalu menjadi macannya Asia dan siapa yang tak mengakui keunggulan Bahrain dari anak-anak Merah Putih ketika berlaga di Piala Asia 2004 lalu dengan skor telak 3-1. Namun semua itu ternyata tidak membuat nyali menjadi ciut bagi Pasukan Garuda, mereka bertanding bak benteng ketaton, mereka bertanding bagaikan Burung Garuda yang meliuk-liuk menyambar musuh-musuhnya, Bahrain dipertandingan pertama dihajar 2-1, Arab Saudi harus berjuang sampai menit akhir untuk menaklukan Pasukan Merah Putih 1-2, sedangkan Korea Selatan hanya mampu menang tipis 0-1 dari Bambang Pamungkas dkk.

Foto : Firman Utina meliuk-liuk mencoba melewati barisan pemain Korea Selatan yang posturnya lebih tinggi pada pertandingan Grup D Piala Asia 2007 di Gelora Bung Karno ( 10/7 ). Indonesia kalah 0-1. ( foto dok : antara )

Sejarah untuk maju ke babak perempat final memang tidak tercipta, namun sejarah lain telah tercatat yaitu betapa melimpahnya dukungan suporter Garuda terhadap perjuangan pemainnya di atas lapangan, mereka rela berdesak-desakan, mereka rela antri dari pagi hanya untuk memperolah tiket pertandingan agar bisa mendukung Bambang Pamungkas dkk secara langsung. Merekapun siap mati dilapangan demi menyaksikan tim Merah Putih berjaya, dari orang nomor satu di negeri ini sampai para petugas parkir, berbaur menjadi satu meneriakkan yel-yel " Indonesia............Indonesia........". Ketika Pasukan Merah Putih kalahpun, mereka tetap mendukung, mereka tetap memberikan penghormatan, mereka telah menjadi satu hanya untuk mendukung dan membela kebesaran Indonesia, penonton dan suporter Indonesia semakin dewasa.

Foto : Suporter Indonesia dengan semangat sedang beraksi memberikan dukungan pada para pemain Indonesia yang tengah berjuang di tangah lapangan pada pertandingan antara Indonesia vs Korea Selatan pada pertandingan terakhir babak penyisihan Grup D Piala Asia 2007 di Gelora Bung Karno ( 10/7 ). Walapun Indonesia akhirnya kalah, para suporter Indonesia tetap bisa berlaku tertib dan mereka bisa menerima kekalahan dengan lapang dada. ( fot dok : jawapos ).

Dan sekarang, saatnya bagi kita untuk bangkit untuk menciptakan sejarah lainnya yaitu membuat sepakbola kita bisa berbicara banyak di dunia, yang terdekat adalah SEA Games yang digelar di Thailand pada akhir tahun ini, tunjukkan bahwa kita memang telah bangkit !!

Senin, 16 Juli 2007

Indonesia - Arab Saudi, 14 Juli 2007

Photo : Maman Abdurahman berebut bola dengan pemain depan Arab Saudi, Yasser Al Qahtani, dalam pertandingan Grud D Piala Asia 2007 di Gelora Bung Karno ( foto dok : media indonesia )

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, apalagi kegagalan tersebut akibat ulah orang lain.....nah seperti itulah nasib Timnas Indonesia ketika bertanding di Grup D Putaran Final Piala Asia 2007. Kekalahan Indonesia memang menyesakkan, setelah selama 90 menit pertandingan pasukan Merah Putih dengan gagah berani melakukan perlawan yang alot terhadap tim yang lebih diunggulkan, tim yang menjadi langganan Piala Dunia, tim yang diatas kertas sangat kuat, tim yang berjudul Son Of The Desert, yaitu Arab Saudi. Kekalahan 1 - 2 sangatlah tipis, apalagi gol kedua Arab Saudi tercipta di babak injury time akibat kesalahan ringan Ismed Sofyan ( yang menurut wasit FIFA asal Indonesia, Jimmy Napitupulu, sebenarnya tidak ada kesalahan, tapi merupakan aksi diving pemain Arab Saudi ), namun walau kalah, tim Merah Putih telah membuktikan bahwa tidak bisa diremehkan, tidak bisa dianggap sebelah mata, kemenangan Arab Saudi nyata-nyata telah dibantu beberapa keputusan wasit yang menurut AFC sendiri benar-benar berat sebelah ( seperti yang ditulis di seputar indonesia ) , lebih menguntungkan tim dari negara petro dolar tersebut. Memang beberapa kali keputusan wasit asal Uni Emirat Arab ( yang serumpun dengan Arab Saudi ), yaitu Ali Al-Badwawi sangatlah aneh, sangat dibuat-buat ( menurut wasit FIFA, Jimmy Napitupulu ), yang berakibat kepemimpinan wasit tersebut diprotes berbagai kalangan, mulai dari Presiden Indonesia, Pengurus PSSI sampai beberapa elemen suporter Indonesia ( foto bawah ) yang rela berdemo langsung dihadapan petinggi AFC, mereka mempertanyakan kebijakan AFC yang tidak bertindak fair dalam soal penunjukkan wasit, mereka mempertanyakan kenapa wasit asal UEA yang notabene adalah serumpun dengan Arab Saudi ( setidaknya mempunyai ikatan emosional ) yang memimpin pertandingan bukannya wasit asal China atau Jepang yang lebih netral karena tidak ada ikatan emosional dengan kedua tim.

Tapi sudahlah, kekalahan tersebut merupakan kegagalan yang tertunda, jadikanlah kekalahan tersebut sebagai cambuk untuk tampil lebih baik kala menghadapi Korea Selatan nanti ( 18 Juli 2007 ) di Stadiun Utama Gelora Bung Karno......kalahkan Korea Selatan agar bisa lolos ke babak selanjutnya, seluruh rakyat Indonesia tetap mendukungmu.......kibarkan Sang Merah Putih di seantero jagad Sepakbola Dunia..........didunia ini serba mungkin, oleh sebab itu Indonesia sangat mungkin mengalahkan Korea selatan yang diatas kertas kemampuannya dua tingkat dari Indonesia, karena ternyata Korea Selatan juga bisa dikalahkan oleh Bahrain, yang telah lebih dulu dikalahkan Indonesia. Jadi, Indonesia juga bisa mengalahkan Korea Selatan kan ? tentu bisa.............!!!

Rabu, 11 Juli 2007

Indonesia - Bahrain, 10 Juli 2007

Untuk sementara, kita tinggalkan sejenak kenangan kita terhadap perjalanan panjang Bangsa Indonesia kemarin, sekarang ini kita tatap perjalanan bangsa Indonesia kini.........yang saat ini tengah berjuang di Piala Asia 2007......










Photo : Pemain Indonesia meluapkan kegembiraannya setelah berhasil mengalahkan Bahrain 2-1 di Grup D Piala Asia 2007, Selasa ( 10/7 ) - dok : pikiran rakyat















Photo : Bambang Pamungkas mencoba melepaskan diri dari kawalan pemain Bahrain, pada pertandingan Grup D Piala Asia 2007, Selasa ( 10/7 ) di Gelora Bung Karno Jakarta - dok : media indonesia















Photo : Striker Budi Sudarsono melompati pemain Bahrain yang coba menghadangnya, pada pertandingan perdana di Grup D Piala Asia 2007, Selasa ( 10/7 ) - dok : galamedia



















Photo : Firman Utina sedang beraksi menguasai bola pada pertandingan Grup D Piala Asia 2007, Selasa ( 10/7 ) di Gelora Bung Karno Jakarta - dok : jawa pos

Selasa, 10 Juli 2007

Kisah Sepakbola Indonesia

Indonesia vs Manchester United 0-0

Tim nasional (timnas) Indonesia pernah berhasil menahan imbang Manchester United (Inggris) 0-0. Ya, itu terjadi pada hari Minggu, 1 Juni 1975 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Namun demikian, pertandingan tersebut bukanlah satu-satunya pertandingan, tetapi merupakan salah satu dari tiga pertandingan segitiga internasional di Jakarta, Indonesia.

Dalam pertandingan melawan Manchester United (MU) itu, timnas Indonesia Tamtama menurunkan formasi: Rony Paslah, Sutan Harhara, Oyong Liza, Suaib Rizal, I. Ibrahim, Anjas Asmara, Nobon, Waskito, Djunaidi Abdillah, Risdianto, dan Andi Lala. Sementara MU menurunkan formasi: Alex Stepney, Alex Forstyth, Arthur Alliston, Gerry Daly, Jimmy Micholl, Jim McCallog, Trevor Anderson, Sammy McIlroy, Stuart Pearson, David McCreery, dan Tony Young.

Hasil pertandingan lainnya: Ajax Amsterdam vs Manchester United 3-2 (Selasa, 3 Juni 1975) dan Ajax Amsterdam vs Indonesia 4-1 (Kamis, 5 Juni 1975).


1.

Ajax Amsterdam (Belanda)

2

2

0

0

7-3

4

2.

Manchester United (Inggris)

2

0

1

1

2-3

1

3.

Indonesia

2

0

1

1

1-4

1

Kamis, 05 Juli 2007

Kemenangan Pertama Indonesia di Piala Asia ( 2004 )

JAKARTA-Indonesia membuat kejutan dalam Piala Asia 2004 di China, dengan menumbangkan Qatar 2-1 pada penampilan perdananya di Grup A. Kemenangan dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Buruh, Beijing itu, membuat Agung Setyabudi dan kawan-kawan untuk sementara memimpin Grup A. Urutan kedua dan ketiga ditempati tuan rumah dan Bahrain, yang sehari sebelumnya bermain imbang 2-2.

Keberhasilan mengalahkan anak-anak asuhan Philippe Troussier itu juga membuat Pasukan Merah Putih berhasil mengukir sejarah baru sepanjang keikutsertaan mereka di kejuaraan empat tahunan tersebut. Dalam dua putaran final Piala Asia sebelumnya, Indonesia belum pernah menang.

Pada kejuaraan 1996 yang berlangsung di Uni Emirat Arab, PSSI hanya mencatat satu kali seri dalam tiga pertandingan di Grup A, 2-2 melawan Kuwait. Sisanya kalah 2-4 dari Korea Selatan dan 0-2 dari UEA, membuat mereka menghuni posisi juru kunci grup.

Empat tahun kemudian di Lebanon, Bima Sakti dkk juga hanya mencatat satu hasil imbang melawan Kuwait (0-0), dari tiga penampilan. Posisi juru kunci grup kembali didapat, karena harus mengakui keunggulan China 0-4 dan Korea Selatan 0-3.

Kemenangan baru didapat kali ini, ketika timnas ditangani Ivan Venkov Kolev. Nilai penuh didapat setelah mereka tampil percaya diri. Para pemain memang dijanjikan bonus bila mampu mencatat sejarah baru di Piala Asia.

Tetapi, menurut Asisten Manajer HB Bahreizy Gozali, bukan semata-mata bonus yang membuat timnya mampu mencatat hasil mengesankan dalam kiprah awalnya. ''Mereka ingin membuktikan bisa main bola yang benar,'' tuturnya.

Semangat para pemain memang menggelora, karena Indonesia menjadi underdog dalam turnamen ini. ''Itu justru menjadi pemacu,'' tambah mantan Manajer Umum PSIS Semarang tersebut.

Tiga Penyerang

Menghadapi Qatar, Kolev yang mantan pelatih timnas U-21 Bulgaria, memasang tiga ujung tombak sekaligus. Strategi ini mampu merepotkan pertahanan lawan.

Pergerakan trio penyerang, Elie Aiboy, Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas terlihat padu dalam pertandingan yang hanya disaksikan 1.000 penonton itu. Sejumlah suporter Indonesia yang diikoordinasikan oleh KBRI mengisi tempat duduk di stadion berkapasitas 66.000 orang itu.

Pada menit ke-25, manuver Elie di depan kotak penalti melahirkan umpan bagi Budi Sudarsono yang berada di depannya. Dengan sedikit sontekan ia mampu melewati adangan kiper Abdulaziz Ali, untuk membuat timnya memimpin 1-0.

Setelah tertinggal, Qatar langsung meningkatkan serangannya. Dengan gencarnya, mereka berkali-kali melepaskan umpan-umpan diagonal yang terarah ke kotak penalti.

Namun, upaya-upaya itu mampu dipatahkan barisan belakang Indonesia. Terlebih, kiper Hendro Kartiko juga tampil cemerlang.

Penjaga gawang asal Persebaya ini bermain tenang. Berulang kali dia berhasil mengantisipasi tendangan-tendangan lawan.

Pada babak kedua, ketika pertandingan baru berjalan tiga menit, Indonesia berhasil menambah satu gol lagi melalui tendangan keras Ponaryo Astaman. Gelandang PSM Makassar ini berhasil mengarahkan bola ke sasaran, sekalipun ditempel ketat seorang pemain lawan. Bola tepat melewati kiper yang posisinya terlalu maju.

Sebenarnya, sisi sayap pada belakang Indonesia masih sering mudah ditembus. Tetapi begitu bola mendarat di kotak penalti, trio Warsidi, Hari Saputra, dan Firmansyah siap menghalaunya. Selain itu, tiga gelandang secara bergantian juga ikut membantu pertahanan jika diserang.

Keluarnya Alexander Pulalo pada sepuluh menit terakhir membuat sisi kanan barisan belakang makin berlubang. Masuknya bek muda Hamka Hamzah masih belum mampu menutup celah itu. Akhirnya di menit ke-83, Qatar berhasil menipiskan ketinggalan.

Megid Mohamed dengan cerdik mengirim umpan ke kawannya yang berdiri bebas di sebelah kanan. Megid langsung berlari ke dalam kotak penalti begitu bola dikirim kembali ke tengah. Dia mampu menceploskan bola ke gawang Hendro.

Hingga peluit panjang berbunyi kedudukan tetap 2-1, sekalipun saat injury time Qatar memperoleh tiga peluang beruntun.

sumber dari www.suaramerdeka.com

Rabu, 04 Juli 2007

Bom Bali II, 1 Oktober 2005

Photo : Hasil rekaman video amatir pada saat pengeboman.

Pengeboman Bali 2005 adalah sebuah seri pengeboman yang terjadi di Bali pada 1 Oktober 2005. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.

Pada acara konferensi pers, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan telah mendapat peringatan mulai bulan Juli 2005 akan adanya serangan terorisme di Indonesia. Namun aparat mungkin menjadi lalai karena pengawasan adanya kenaikan harga BBM, sehingga menjadi peka.

Tempat-tempat yang dibom:

  • Kafé Nyoman
  • Kafé Menega
  • Restoran R.AJA’s, Kuta Square

Menurut Kepala Desk Antiteror Kantor Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Inspektur Jenderal (Purn.)Ansyaad Mbai, bukti awal menandakan bahwa serangan ini dilakukan oleh paling tidak tiga pengebom bunuh diri dalam model yang mirip dengan pengeboman tahun 2002. Serpihan ransel dan badan yang hancur berlebihan dianggap sebagai bukti pengeboman bunuh diri. Namun ada juga kemungkinan ransel-ransel tersebut disembunyikan di dalam restoran sebelum diledakkan.

Komisioner Polisi Federal Australia Mick Keelty mengatakan bahwa bom yang digunakan tampaknya berbeda dari ledakan sebelumnya yang terlihat kebanyakan korban meninggal dan terluka diakibatkan oleh shrapnel (serpihan tajam), dan bukan ledakan kimia. Pejabat medis menunjukan hasil sinar - x bahwa ada benda asing yang digambarkan sebagai "pellet" di dalam badan korban dan seorang korban melaporkan bahwa bola bearing masuk ke belakang tubuhnya.

Korban

23 korban tewas terdiri dari:

  • 15 warga Indonesia
  • 1 warga Jepang
  • 4 warga Australia
  • tiga lainnya diperkirakan adalah para pelaku pengeboman.
Pelaku

Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai, seorang pejabat anti-terorisme Indonesia melaporkan kepada Associated Press bahwa aksi pengeboman ini jelas merupakan "pekerjaan kaum teroris".

Serangan ini "menyandang ciri-ciri khas" serangan jaringan teroris Jemaah Islamiyah, sebuah organisasi yang berhubungan dengan Al Qaeda, yang telah melaksanakan pengeboman di hotel Marriott, Jakarta pada tahun 2003, Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004 dan Bom Bali 2002. Kelompok teroris Islamis memiliki ciri khas melaksanakan serangan secara beruntun dan pada waktu yang bertepatan seperti pada 11 September 2001.

Pada 10 November 2005, Polri menyebutkan nama dua orang yang telah diidentifikasi sebagai para pelaku:

  • Muhammad Salik Firdaus, dari Cikijing, Majalengka, Jawa Barat - pelaku peledakan di Kafé Nyoman
  • Misno alias Wisnu (30), dari Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah - pelaku peledakan di Kafé Menega

Kemudian pada 19 November 2005, seorang lagi pelaku bernama Ayib Hidayat (25), dari Kampung Pamarikan, Ciamis, Jawa Barat diidentifikasikan.

Dalam konferensi pers pada 2 Oktober, Inspektur Jenderal Made Pangku Pastika menunjukkan video salah satu pengebom memasuki Restoran Raja di Kuta dengan menyanggul ransel, dan meledakkannya.

Pada 9 November 2005, polisi melakukan penyergapan di sebuah vila di Kota Batu. Dalam peristiwa tersebut, Dr. Azahari, buronan asal Malaysia yang diduga merupakan orang yang membuat bom dalam dua kali pengeboman di Bali, tewas ditembak polisi.

Kemudian pada hari yang sama di Semarang, dilakukan penyergapan dan perburuan di tempat persembunyian buronan lainnya, Noordin M. Top. Di situ, polisi menemukan sejumlah barang bukti milik para pelaku Bom Bali 2005, di antaranya rekaman kesaksian ketiga pelaku bom bunuh diri di Bali dan dua kartu tanda penduduk milik dua pelaku pemboman tersebut. Dalam rekaman video tersebut, salah seorang pelaku mengatakan bahwa perbuatan yang mereka lakukan akan membawa mereka masuk surga. Rekaman kaset tersebut lalu digunakan untuk mencocokkan wajah pelaku dengan kepala para pengebom yang ditemukan di lokasi pengeboman.

dari berbagai sumber

Selasa, 03 Juli 2007

Kerusuhan Poso dalam Gambar

Kerusuhan Poso adalah sebutan bagi serangkaian kerusuhan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah yang melibatkan kelompok Muslim dan Kristen. Kerusuhan ini dibagi menjadi tiga bagian. Kerusuhan Poso I (25 - 29 Desember 1998), Poso II ( 17-21 April 2000), dan Poso III (16 Mei - 15 Juni 2000). Kerusuhan-kerusuhan tersebut telah menewaskan lebih dari 577 orang.

Syukurlah pada 20 Desember 2001, Keputusan Malino ditandatangani antara kedua belah pihak yang bertikai dengan diinisiasi oleh Wapres Jusuf Kalla dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengakhiri pertikaian antara dua kelompok ( Muslim dan Kristen ).

Bulutangkis Indonesia Dalam Kenangan
















Cuncun bersama pasangannya Johan Wahyudi, mereka berdua termasuk dalam Magnificent Seven bersama, Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, Christian Hadinata dan Ade Chandra.




















Photo : Liem Swie King sedang beraksi




















Photo : Rudy Hartono sedang beraksi dengan gerakannya yang terkenal " Around The Head Smash "












Photo : Rudy Hartono versus Liem Swie King berhadapan di final All England 1976, Rudy akhirnya memenangkan pertandingan tersebut dan mengukir sejarah sebagai Juara All England untuk yang ke 8 kalinya.














Photo : Iie Sumirat ( kiri ) sedang menghadapi Tang Hsien Hu di semifinal kejuaraan Asia 1976, Tang selalu kesulitan menghadapi pukulan kedut ala Iie, Tang akhirnya menyerah dan Iie Sumirat dijuluki " Pembunuh Raksasa " setelah di final juga menundukkan pemain China lainnya Hou Chia Chang.
















Photo : Tim Putri Indonesia yang menjuarai Uber Cup 1975, mereka adalah : ( dari kiri ) Theresia Widiastuty, Regina Masli, Minarni, Taty Sumirah, Utami Dewi dan Imelda Wiguna

Iklan