Mutiara Hadist

" Sesungguhnya Allah SWT. berfirman pada hari kiamat : Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku ? hari ini akan Aku naungi ( tolong ) mereka, dimana tidak ada naungan ( pertolongan ) yang lain selain dari-Ku. " ( HR. Muslim )

Sponsors

Promo




Rabu, 26 September 2007

Film Film Indonesia Yang ( Pernah ) Dicekal

Berbicara mengenai film, mungkin sampai beberapa halamanpun tidak akan tamat, karena banyak sekali film-film produksi Indonesia mulai tahun 1920 sampai sekarang. Pada tahun 90 film kita pernah merajai bisokop-bioskop yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, untuk generasi sebelum tahun 80 pasti ingat film-film seperti Catatan Si Boy, Inem Pelayan Seksi, Akibat Pergaulan Bebas, Badai Pasti Berlalu, Binalnya Anak Muda sampai film-filmnya group Warkop DKI seperti Kanan Kiri OK, Dongkrak Antik, dll.

Namun berbicara mengenai film-film yang pernah dicekal, tentu kita masih bisa menghitungnya ( itupun yang ketahuan.....), untuk itu mari kita sedikit menengok kebelakang, sensor terhadap media di Indonesia diberlakukan dalam berbagai tingkatannya sejak masa Demokrasi Terpimpin hingga Orde Reformasi. Di masa Orde Baru khususnya sensor ini dijalankan dengan sangat ketat. Hingga kini lebih dari 60 buah film dilarang beredar. Sebagian besar dari film-film itu diproduksi pada masa Orde Baru. Film-film yang kena celak itu ada yang tertahan bertahun-tahun di meja sensor atau ditarik dari peredaran karena protes dari segolongan orang atau masyarakat. Film harus disensor berlapis-lapis melalui berbagai lembaga seperti Departemen Penerangan dan Laksusda. Bahkan pejabat publik pun dapat menghentikan pemutaran film karena alasan pribadi.

Di masa Orde Reformasi sekalipun, yang konon menjalankan keterbukaan, masih ada film-film yang dilarang beredar karena berbagai alasan.

Berikut ini adalah daftar film Indonesia yang kena cekal sejak masa Demokrasi Terpimpin, hingga Orde Reformasi, dan alasan-alasannya seperti yang tertulis di wikipedia indonesia dan sumber-sumber lainnya.

  • Pagar Kawat Berduri ( 1961 ), diganyang oleh PKI, diselamatkan Presiden Soekarno, namun tetap tak bisa diputar di bioskop.
  • Tiada Jalan Lain ( 1972 ), karena produsernya, Robby Tjahjadi terlibat dalam kasus penyelundupan mobil mewah
  • Romusha (1972), dianggap dapat mengganggu hubungan dengan Jepang.
  • Inem Pelayan Seksi ( 1976 ), diharuskan berganti judul dari judul semula Inem Babu Seksi.
  • Wasdri ( 1977 ) skenarionya dianggap bisa menyinggung pejabat Kejaksaan Agung, karena Wasdri, buruh angkut di Pasar Senen, Jakarta hanya diberi upah oleh seorang istri Jaksa hanya separuh dari yang biasanya ia terima.
  • Yang Muda Yang Bercinta (1977), dianggap mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi dari paham komunis.
  • Bung Kecil ( 1978 ), isinya tentang orang muda yang melawan feodalisme.
  • Bandot Tua (1978), dipangkas habis-habisan dan diganti judulnya menjadi Cinta Biru, karena kata “Bandot” dinilai bermakna negatif.
  • Petualang Petualang (1978), judulnya diharuskan diubah dari “Koruptor, Koruptor”. Film ini mengisahkan berbagai bentuk korupsi besar-besaran.
  • Buah Hati Mama ( 1983 ), memuat dialog tentang kakek yang pintar menyanyi karena berteman dengan mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso. Bagian ini digunting habis.
  • Saidjah dan Adinda ( 1988 ), judul berubah dari Max Havelaar dan menggambarkan Max Havelaar yang berhati mulia, sementara penguasa pribumi justru menghisap rakyat.
  • Pembalasan Ratu Laut Selatan (1988) karena eksploitasi seks
  • Jurus Maut
  • Kuda Kuda Binal
  • Cinta Biru
  • Kanan Kiri OK, diharuskan berganti judul dari Kiri Kanan OK karena kata 'Kiri' memberi kesan PKI.
  • Tinggal Landas, sutradaranya, Sophan Sophiaan, diminta menambahkan kata Buat Kekasih, karena Indonesia saat itu sedang dalam proses tinggal landas.
  • Nyoman dan Presiden ( 1989 ), diminta agar judulnya diubah menjadi Nyoman dan Bapaknya, Nyoman dan Kita, Nyoman dan Bangsa, Nyoman dan Merah Putih, atau Nyoman dan Indonesia.
  • Buruan Cium Gue (2005), diprotes oleh AA. Gym dan Majelis Ulama Indonesia karena dianggap mengusik perasaan susila masyarakat.
Nah, film - film diatas adalah sebagian kecil dari mungkin puluhan atau ratusan film lainnya yang kena cekal, untuk anda yang tahu silahkan tambahkan saja.

2 komentar:

mitora in life mengatakan...

Max Havelaar, penasaran aku ma film ini.

Btw, diantara semua film2 tersebut, paling ga suka emang sama "buruan cium gw", muntah2 deh setelah nonton tuh film. :P

Anonim mengatakan...

Aku sangat mendukung lembaga sensor film untuk lebih memperketat aturan perfilman di Indonesia karena tidak semua masyarakat Indonesia siap atau dapat menerima film-film yang menyalahi aturan-aturan dan norma di masyarakat, yah seperti "buruan cium gue" dikhawatirakan menjadi pengaruh buruk bagi para remaja di Indonesia.
Kebebasan berkreasi tidak harus kemudian mengeksploitasi seks secara vulgar di kalangan remaja, apalagi film tersebut ratingnya dipruntukkan untuk remaja. Sebenarnya banyak kok tema-tema menarik yang dapat diangkat ke layar lebar. hanya perlu kreativitas dan sumber daya manusiannya saja.

Iklan