Mutiara Hadist

" Sesungguhnya Allah SWT. berfirman pada hari kiamat : Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku ? hari ini akan Aku naungi ( tolong ) mereka, dimana tidak ada naungan ( pertolongan ) yang lain selain dari-Ku. " ( HR. Muslim )

Sponsors

Promo




Jumat, 20 Februari 2009

Gedung Bioskop dan Film Indonesia Dulu

Bioskop berasal dari kata bioscoop ( bahasa Yunani ) dan berarti "gambar hidup" adalah tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar 
lebar. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1990, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

Bioskop jaman dulu bermula di sekitar Lapangan Gambir (kini Monas). Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal 

dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian 

dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). 

Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya 

hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru. Ada lagi bioskop yang bernama Jules 

Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop 

terbuka di lapangan, yang dijaman sekarang disebut "misbar", gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu 

Air.

Bioskop-bioskop lain seperti, Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Astoria di Pintu Air, 

Centraal di Jatinegara, Rialto di Senen dan Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Olimo, Orion di Glodok, Al Hambra di Sawah 

Besar, Oost Java di Jl. Veteran, Rembrant di Pintu Air, Widjaja di Jalan Tongkol/Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, dan lain-lain merupakan bioskop yang 

muncul dan ramai dikunjungi setelah periode 1940-an.

Film-film yang diputar di dalam bioskp tempo dulu adalah film bisu 

atau tanpa suara. Biasanya pemutaran di iringi musik orkes, yang ternyata jarang "nyambung" dengan film. Beberapa film yang kala itu yang menjadi favorit 

masyarakat adalah Fantomas, Zigomar, Tom MIx, Edi Polo, Charlie Caplin, Max Linder, Arsene Lupin, dll.

Di Jakarta pada tahun 1951 diresmikan bioskop Metropole yang berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi 

peniup dan penyedot, bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. Pada tahun 1955 bioskop Indra di 

Yogyakarta mulai mengembangkan kompleks bioskopnya dengan toko dan restoran.

Di Indonesia awal Orde Baru dianggap sebagai masa yang menawarkan kemajuan perbioskopan, baik dalam 

jumlah produksi film nasional maupun bentuk dan sarana tempat pertunjukan. Kemajuan ini memuncak pada tahun 1990-

an. Pada dasawarsa itu produksi film nasional 112 judul. Sementara sejak tahun 1987 bioskop dengan konsep 

sinepleks (gedung bioskop dengan lebih dari satu layar) semakin marak. Sinepleks-sinepleks ini biasanya berada di kompleks pertokoan, pusat 

perbelanjaan, atau mal yang selalu jadi tempat nongkrong anak-anak muda dan kiblat konsumsi terkini masyarakat perkotaan. 

Di sekitar sinepleks itu tersedia pasar swalayan, restoran cepat saji, pusat mainan, dan macam-macam.

Sinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, tetapi juga menerobos kota kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan 

masa bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada "bioskop depan". Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia 

mencapai puncak kejayaan: 3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306 layar. 

Di Bandung, bioskop-bioskop biasanya hadir di pusat kota seperti alun-alun Bandung, diantaranya adalah bioskop Elita, Dian, Texas, Nusantara dan Dallas. Sementara bioskop lainnya tersebar diberbagai tempat seperti Majestic, Vanda. President, Bandung Theatre dan Siliwangi Theatre.

Sementara itu, perkembangan perfilm-an sendiri di Indonesia diawali dengan sebuah film berjudul Loetoeng Kasaroeng yang diproduksi pada tahun 1940-an, selanjutnya hadir film Djembatan Merah yang dibintangi Netty Herawati, Rendra Karno, Astaman, Darussalam, Lilik Sudjio dan juga Mustadjab.

Pada tahun 50-an, hadir film-film perjuangan seperti Lewat Djam Malam, juga Darah dan Doa yang menceritakan perjuangan pasukan Siliwangi di Long March dan disutradarai oleh Usmar Ismail serta Enam Djam di Jogja yang juga disutradarai Usmar Ismail dan dibintangi oleh Aedy Moward.

Sementara film pertama Indonesia yang meraih penghargaan Internasional adalah film Apa Jang Kau Tjari, Palupi ? hasil sutradara Asrul Sani dan dibintangi Farida Feysol, Bambang Irawan, Aedy Moward, Connie Sutedja, dan juga Widyawati. Film ini berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik pada Festival Film Asia pada yahun 1970.

Pada tahun 70-an, juga mulai hadir film-film bertemakan komedi yang diperankan oleh komedian-komedian Indonesia jaman dulu seperti Bing Slamet dan Benyamin S yang bermain di film Ambisi, Tarsan Kota, Benyamin Koboy Ngungsi dll. Juga hadir film-film drama percintaan seperti film Cinta yang disutradarai Wim Umboh dan dibintangi Ratno Timoer, Marini Sardi dan Pitrajaya Burnama serta meraih Piala Citra pada tahun 1975 untuk kategori Film Terbaik dan Aktor Terbaik oleh Ratno Timoer. 

Selain itu, film Cintaku Di Kampus Biru pada tahun 1976 dan dibintangi Roy Marten, Yati Octavia serta Rae Sita dan Farouk Afero menjadikan dunia perfilman di Indonesia mencapai puncak kejayaannya. Pada tahun 70-an sampai dengan tahun 80-an, beragam tema film hadir di bioskop-bioskop di tanah air. Judul film seperti Inem Pelayan Seksi, Badai Pasti Berlalu, Cowok Komersil, Gadis Kampus, Gita Cinta Dari SMA, Janur Kuning, Mana Tahann, hingga film-film seperti Bukan Impian Semusim, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Perempuan Dalam Pasungan sangat memanjakan para penikmat film. 

Trio Warkop DKI yang terdiri dari Dono, Kasino dan Indro pada tahun 80-an sangat merajai perfilman di Indonesia, mereka bertiga membintangi puluhan film diantaranya, Chips, Mana Tahaaan, Dongkrak Antik, Kanan Kiri OK dll. Pada periode antara 80-an sampai 90-an, film perjuangan kembali hadir diantaranya November 1828, Doea Tanda Mata serta Tjut Nja' Dien, yang dibintangi Christine Hakim. Selain itu film remaja yang diwakili Catatan Si Boy sempat booming sehingga film tersebut dibuatkan sampai dengan 4 sekuel. 

Kemudian kehadiran Naga Bonar dan Cintaku Di Rumah Susun mewakili film berjenis komedi situasi. Film-film tersebut juga nampaknya menjadi film yang harus terus diingat karena film tersebut sangat pas pada jamannya. 

Menginjak tahun 90-an, film Cinta Dalam Sepotong Roti, Bulan Tertusuk Ilalang dan Daun Di Atas Bantal mewakili judul - judul film yang puitis. Tapi sebelumnya juga ada sih film-film dengan judul yang sangat puitis seperti Titian Rambut Di Belah Tujuh, Mengejar Matahari, Merangkul Langit, Senyum Di Pagi Bulan Desember, Kembang Kertas, Pasir Berbisik dll.

5 komentar:

Mbak Maya mengatakan...

It's a nice blog. Salam kenal ya....

Joy Setiawan mengatakan...

salam kenal lagi mbak maya

Mr.Hepenk mengatakan...

sipp...bung...
link balik y... :)

rayearth2601 mengatakan...

wew, mantap deh blognya...

info jadul jadul

hehe

redhy mengatakan...

salam kenal...cerita yng bagus..mengenang tempo doeloe...hehe..
keep posting

Iklan