Mutiara Hadist

" Sesungguhnya Allah SWT. berfirman pada hari kiamat : Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku ? hari ini akan Aku naungi ( tolong ) mereka, dimana tidak ada naungan ( pertolongan ) yang lain selain dari-Ku. " ( HR. Muslim )

Sponsors

Promo




Senin, 04 Februari 2008

Tinju Indonesia, From Zero to Hero

Dunia tinju Indonesia sampai saat ini patut berbangga pada seorang Chris John yang telah berhasil mempertahankan gelarnya di kelas Bulu versi WBA sebanyak sembilan kali. Sebuah pencapaian yang luar biasa, yang jarang bandingannya. Namun, hal itu tentu tidak terlepas dari sejarah para petinju Indonesia yang sejak tahun 80-an telah bergeliat untuk mencapai titik tertinggi dalam karirnya.

Kita tentu masih sangat kenal dengan Ellyas Pical, Nico Thomas dan M. Rahman, yang kesemuanya telah berhasil menjadikan Tinju Indonesia begitu harum di dunia, mereka mampu menjadi Pahlawan, mereka adalah pembangkit semangat dunia tinju tanah air.

Tapi keberhasilan mereka tentu saja dibayang-bayangi kegagalan para petinju lainnya yang mencoba untuk merebut singgasana juara, tahun 1981 kita tentu masih ingat dengan sosok Thomas Americo seorang petinju asal Timor Timur yang gagal mengalahkan Soul Mamby dari Amerika pada perebutan Juara Dunia Kelas Welter Junior versi WBC di Jakarta, kemudian Joko Arter kalah KO ronde ke-2 dari Min Keun Oh ( Korsel ) di kejuaraan kelas bulu (57,1 kg) IBF di Seoul, 4 Maret 1984, kemudian Yani Hagler, kalah TKO ronde ke-3 dari Dodie Boy Panalosa (Filipina) dalam kejuaraan kelas terbang junior (48,9 kg) IBF di Jakarta pada 12 Oktober 1985, Azadin Anhar kalah KO ronde ke-3 dari Jum-hwan Choi (Korsel) dalam kejuaraan terbang junior IBF di Jakarta, 9 Agustus 1987, Polly Pasireron, kalah KO ronde ke-5 dari Chong-pal Park (Korsel) dalam kejuaraan kelas menengah super (76,2 kg) WBA di Chonju, Korsel, 1 Maret 1988, Udin Baharuddin kalah KO ronde ke-7 dari Myung-woo Yuh (Korsel) di kejuaraan terbang junior WBA di Seoul, 6 November 1988, John Arief kalah angka 12 ronde dari Napa Kiatwanchai (Thailand) dalam upaya merebut gelar kelas jerami (47,6 kg) WBC di Korat, Thailand, 11 Februari 1989.

Selanjutnya yang tidak berhasil adalah Abdi Pohan, Husni Ray, Said Iskandar, Dominggus Siwalete, M. Nurhuda, Boy Aruan, Andrian Kaspari, Anis Roga, Adrianus Taroreh Kalah KO ronde 4 dari Orzubel Nazarov dalam kejuaraan WBA kelas ringan di Tokyo-Jepang, 15 April 1996 dan Faisol Akbar kalah angka dari Zolani Pethelo ( Afrika Selatan ) dalam kejuaraan IBF kelas terbang mini di Afrika Selatan, 21 Maret 1998.

Sementara Para Petinju Indonesia yang berhasil menjadi Juara Dunia dari berbagai kelas dan versi adalah :
  • Ellyas Pical - 3 kali juara dunia kelas bantam yunior versi IBF - menang KO ronde ke-8 atas Jo-do Chun ( Korsel ) di kejuaraan bantam junior (52,1 kg) IBF di Jakarta, 3 Mei 1985. Namun, Pical kalah KO ronde ke-14 saat menantang juara versi WBA, Kaosai Galaxy (Thailand), di Jakarta, 28 Februari 1987.
  • Nico Thomas - Juara dunia kelas terbang mini versi IBF - menang angka 12 ronde atas Samuth Sithnaruepol di perebutan gelar kelas jerami IBF di Jakarta, 17 Juni 1989. Gelar ini akhirnya direbut oleh Eric Chavez ( Filipina ) masih pada tahun 1989.
  • Chris John - Juara dunia kelas bulu versi WBA - meraih gelar pertama kali pada 26 September 2003 saat menundukkan Oscar Leon dari Kolumbia di Denpasar, Bali. Sampai kini sudah 9 kali mempertahankan gelar baik di Indonesia maupun di luar negeri.
  • Muhammad Rahman - Juara dunia kelas terbang mini versi IBF - merebut gelar pertama kali pada 14 September 2004 setelah mengalahkan Daniel Reyes dari Kolumbia. Rachman sudah beberapa kali mempertahankan gelar juaranya, sebelum akhirnya dikalahkan dengan angka oleh Florente Condes ( Filipina ) di Jakarta, Juli 2007 lalu.
Sampai dengan tahun 2008, Indonesia hanya memiliki seorang juara dunia, yaitu Chris John. Namun hal itu, tidak menjadikan tinju Indonesia menjadi suram, bahkan diharapkan menjadi titik blaik keberhasilan dunia tinju Tanah Air.

Tidak ada komentar:

Iklan